SESUDAH MATI, LALU APA?
Aku sering bilang, "Aku tidak keberatan jika tidak berumur panjang asal kematianku tenang dan tidak menyakitkan."
Tapi kebanyakan orang menanggapinya sebagai ekspresi
keangkuhan.
Menurutku itu
lebih merupakan bentuk kepasrahan. Buatku setiap orang bebas memegang prinsip
moralnya masing-masing asal tidak mengesampingkan norma yang berlaku di
masyarakat.
‘Risiko terbesar yang harus dihadapi setiap makhluk hidup adalah kematian.’
Kalau kamu
hidup dengan cara tertentu, kalau kamu mengalami beberapa hal tertentu,
percayalah risiko terbesar itu lebih mudah dihadapi dibanding beberapa hal, dan
aku adalah orang yang sudah siap dengan risiko itu.
Aku menghabiskan
lebih dari setengah usiaku melakukan apa yang diinginkan oleh orang lain. Aku jarang
benar-benar memiliki keinginan untuk diriku sendiri. Tidak, aku tidak sedang
mengalami power abuse, aku hanya tidak pernah tau apa yang benar-benar
kuinginkan. Jadi sekarang aku memiliki daftar panjang penyesalan. Lalu apakah
aku akan mulai hidup yang aku inginkan? Kurasa tidak. Aku terlalu ‘kosong’
untuk melakukan itu. Kadang kupikir itu karena aku sudah merasa cukup. Nyatanya
aku selalu merasa seperti sedang mencari-cari sesuatu. Tapi apa?
“I’m a little lost at sea, I’m a little birdie in a big old tree.” John Mayer, I Will Be Found (Lost at Sea)
Penggalan lirik lagu yang kupikir
sangat menggambarkan situasiku. Aku merasa aku adalah eksistensi kecil yang
tersesat dan kebingungan di hamparan luas tanpa petunjuk, tidak punya cukup
pertimbangan untuk memilih. Bahkan kebingungan yang menakutkan terdengar lebih
menarik karena ada banyak teror dan risiko yang bisa membuatmu merasa hidup daripada
terjebak dalam kebingungan yang hampa.
Tahukah kamu apa yang paling buruk? Itu ketika kamu tidak tahu apa yang kamu inginkan, dan tidak ada hal yang bisa dipertahankan.
Satu persatu hal dalam hidupmu
menghilang dan kau bahkan tidak lagi berduka. Kegembiraan pasang surut di
sekitarmu kamu bahkan tidak menyadarinya. Bukankah terdengar mengerikan? Rasanya
kosong. Rasanya mati rasa.
Itu lah mengapa rasanya kematian
bukan lagi sesuatu yang tabu untuk kupikirkan. Karena aku bahkan kebingungan
dengan eksistensiku sendiri. Mungkin jika aku mati, jika aku menghilang, jiwaku
tidak lagi disesaki kekosongan. Entahlah.
Comments